Attention~

Happy Reading^^

1. Please leave a comment, at least a reaction below the post.
Usahakan jangan jadi silent reader. Abis baca diharapkan comment~ gak susah kok, bisa anonymous:) paling nggak kasih reaksi kalian dikotak yang ada dibawah post. Tinggal centang aja:)
Kritik dan saran diterima,dengan bahasa yang baik pastinya:3
2. Copy allowed with credit:3
3. Kalo mau req ff bisa kok, contact di line uname 'snowflakes2ch' sebisa mungkin saya bikinin:)
Hobi berfantasi juga? Ayo tuang dalam kata-kata^^ Bisa kirim ke saya dan akan dipost disini~ full credit♡

Saya minta comment bukan karna haus akan comment. Blog ini hanya saluran hobby. Tapi alangkah lebih senang bila hasil kerja diindahkan dan diberi saran supaya lebih baik:3
Gamsahamnida^^

Saturday, June 7, 2014

24 Hour ( The Beginning )



Title: 24 hour ( Beginning )
Author: Tanada Kanade
Genre: Thiller, Gore, Suspense 
Lenght: 2 chapter ( Two shots ) 
Cast: Infinite L ( Kim myung soo) , Lee joon MBLAQ , and the other cast 

 ------------------------------------------------------------------------------------------------------------

01:00 a.m
aku masih duduk diam memandangi istriku yang terbaring lemah tak sadarkan diri. 3 tahun lamanya aku menunggu dia menepati janjinya. Katanya ia akan kembali padaku ketika lukaku sudah sembuh.. Sekarang semua bekas sayatan ditubuhku sudah hilang,aku tidak kesakitan lagi seperti terakhir kali aku melihatnya terbaring bersimbah darah. Keparat itu menusukya persis didepan mataku...
02:00 a.m
*kringg kringg*
Teleponku berbunyi..
"halo?"
"gawat,kita diserang!"
"cih,aku baru membunuh 3 anak buahnya dia sudah mau berhutang lagi. Bagaimana pertahanan kita?
"Masih aman,tapi kurasa sedikit lagi tertembus! karena diluar ada sekitar 30 orang yang terus berusaha mendobrak."
"Baiklah, aktifkan mode pertahanan gedung dan suruh orang-orang menjauh dari pintu depan."
"Baik!"
Aku menutup telepon dan mulai memilah-milah senapan.
"MSG-90 tidak.. PSG1 juga tidak.. ah.." *MSG-90 dan PSG1 adalah nama senapan*
Aku mengambil sebuah bom tangan yang tergeletak dimeja. Kuaktifkan dan kulempar asal dari kamarku dilantai 3.
*BLARR*
Bom tangan itu tak mengenai siapapun. Namun semua pasukan lawan tak berani maju lagi. Kurasa mereka sangat terkejut dengan bomku tadi, air muka mereka terlihat ketakutan. Lalu, sebuah helikopter kecil turun mendekati beranda rumahku. Seseorang berbicara menggunakan pengeras suara.
“Myungsoo-ya! Kenapa kau tidak turun dan bermain bersamaku?”
“Diamlah,aku tidak sedang ingin membunuh seseorang.”
“Hei,dengar. Aku juga tak berniat membunuh kok. Kubilang kan main? Hahaha”
“Bisakah kau diam sebelum aku menjatuhkan bomku yang kedua?”
“Woo..Tenang dulu.Kenapa kau begitu serius? Dulu kau tidak begitu, setidaknya sebelum jantung istrimu kutusuk sampai tembus. Hahaha.”
Tanpa basa-basi kuledakkan bom tangan lagi. Kali ini mengenai sekitar 5 orang yang berjaga disudut lapangan.
“Aku masih belum membalaskan dendam, tapi kau sudah mau menambah dosa huh?”
“Hei seharusnya aku yang bilang begitu! Kenapa kau mendahuluiku?!”
“Sudahlah Myungsoo, aku memang selalu mendahuluimu. Akui saja! Masalah Hwayoung itu hanya kelengahanku.”
“Lengah? Kau memang harusnya kubunuh kemarin. Mulutmu tak bisa dijaga.”
“Aku tak menyalahkanmu tidak membunuhku waktu itu.Mari sekarang kita buktikan siapa yang pantas hidup. Kau atau aku.”
“Sudah kubilang aku sedang tidak ingin…”
“Pengecut! Bilang saja kau takut menyusul istrimu.”
“Kita bertemu di gedung latihan tembak kemiliteran lusa tengah malam.”
“Oh mau main permainan lama ya..Aku yang mencarimu atau..”
“Aku yang mencarimu.”
“Great. Kupakai seluruh gedungnya ya? kutunggu di lantai 20.”
“Baiklah. Pergi sekarang.”
“Yah baiklah aku akan pergi ( mengangkat alis ) semuanya! Mari kita kembali dan berlatih!”
Aku kembali masuk kedalam kamar. Terdengar suara pasukan Joon menjawab dengan semangat ajakannya untuk berlatih. Kalau aku jadi pasukannya, aku takkan mau berlatih lagi karena kujamin butuh waktu setidaknya 2 bulan baginya untuk mempersiapkan penyerangan dirumahku ini. Lama? Tidak. Joon memang orang yang mempersiapkan segalanya dengan matang.
Lusa sudah pertempuran, tidak mungkin untuk membuat siasat baru. Dari 3489 siasat yang pernah dibuat, kira-kira yang mana yang akan digunakannya besok? Aku berpikir sambil membuat secangkir kopi. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarku. Ternyata salah satu dari 5 ketua pasukanku.
“Ada apa?” Tanyaku.
“Lusa sudah pertempuran, pihak lawan tidak akan membuat siasat baru. Pasti menggunakan salah satu dari ribuan siasat yang pernah digunakannya.”
“3489 lebih tepatnya. Aku sudah tahu hal itu.” Kataku sambil menyesap kopi buatanku. Setelah 3 tahun belajar membuat kopi sendiri,akhirnya hasil kali ini lumayan..lumayan buruk. Aku meletakkan cangkirku diatas meja,lalu menghela napas.
“Perlu kubuatkan kopi lagi,Pak?” Tanyanya seakan tahu kopi buatanku tak enak. Kurasa memang dia tahu.
“Tidak perlu.” Jawabku singkat.
“Jadi, siasat yang bagaimana yang akan kita gunakan lusa,Pak?”
“Memangnya kenapa?”
“Kita kan harus berlatih dengan baik agar bisa menang. Bukankah begitu?”
“Yah untuk menang memang butuh berlatih. Tapi kali ini kalian santai saja.”
“Memang anda sudah tahu siasat yang akan dipakainya?”
“Tidak,belum terpikir.”
“Lalu mengapa kami harus santai?”
“Karena kalian tak perlu bertempur.”
“Hah? Apa maksud anda?”
“Aku sendiri yang akan menghadapinya.”
“Tapi 19 lantai bukanlah hal yang mudah.”
“Memang. Tapi lebih tidak mudah lagi kalau harus mengorbankan setidaknya 280 kepala keluarga hanya untuk masalah pribadiku!”
“Tapi kami memang sudah mengabdi untuk anda,Pak! Kami memang sudah mengambil resiko untuk mengorbankan nyawa untuk anda, karena anda pun melakukan hal yang sama kepada kami!”
“Sudah cukup 158 kepala keluarga mati pada pertempuran lalu. Kalian sudah cukup membalas budiku dengan tetap hidup sampai sekarang. Kita semua sudah impas. Kini giliranku mempertaruhkan nyawa dan harga diriku.”
“Kami akan tetap ikut bertempur,Pak. Kami juga akan mempertaruhkan nyawa dan harga diri kami pada pertempuran lusa. Anda yang mengatakannya kepada kami dulu, hidup atau mati kita yang menentukan dan kita yang perjuangkan.”
“Ya..aku memang mengatakannya. *menghela napas*Baiklah, kumpulkan seperlima rekan kita di lapangan.”
“Baik,Pak!”
Aku menghela napas panjang tepat setelah terdengar bunyi blam tanda pintu sudah tertutup kembali. Firasatku buruk tentang ini. Aku tidak tahu berapa banyak kepala keluarga lagi yang akan kukuburkan dipemakaman lusa ini.
Sekitar 15 menit kemudian aku turun untuk memberikan “mandat” pada seperlima rekanku di lapangan.
“Seperti yang kalian semua sudah ketahui, lusa kita akan menghadapi perang terbesar yang kedua tahun ini. Aku tidak mau melibatkan banyak orang, tapi…”
Terdengar suara kembang api diluncurkan.
“Lari!”
Hanya itu yang sempat aku ucapkan sebelum sebuah bom dijatuhkan tepat ditengah-tengah kerumunan rekanku yang berbaris rapi. Hanya sebagian yang sadar dan langsung meyelamatkan diri. Sementara mulutku masih menganga lebar melihat banyaknya orang mati terkulai dihadapanku, aku dievakuasi kedalam kamarku.
Sial. Bisa-bisanya keparat itu berbuat curang, batinku. Aku masih ngeri membayangkan betapa porak porandanya lapangan itu.
 Satu jam berlalu. Salah seorang rekan tim medis mengetuk pintu kamarku,dan aku mempersilahkannya masuk.
“Pak, saya akan melaporkan situasi saat ini.”
“Laporkan saja.”
“Sampai saat ini, dari sekitar 400 orang keseluruhan, 200 orang selamat, 60 luka parah, 70 luka ringan, 25 sedang berada di unit gawat darurat, dan 45 orang mati ditempat.”
“Laporkan kembali dua jam lagi perkembangan 25 orang di unit gawat darurat, dan proses pemakaman 45 orang yang mati ditempat. Jangan lupa menghubungi keluarga 70 orang terakhir.”
“Siap,Pak.”
“Baiklah kau boleh keluar.”
Blam. Pintu tertutup kembali. Aku mulai memutar otak, mulai dari memikirkan nasib 70 orang rekanku, sampai menyiasati pembalasan dendamku.
Setelah mondar-mandir beberapa kali, akhirnya aku mendapat sebuah ide. Ide gila terbaik yang pernah terpikirkan olehku.mungkin. Aku memanggil seluruh orang kepercayaanku dengan telepon khusus.
“Kita hanya tinggal menunggu..Kehancuran dari sang penghancur.” Kataku menutup pertemuan kami. Orang-orang kepercayaanku hanya tersenyum penuh arti.
To be continued…

No comments:

Post a Comment