Title: 24 hour ( Beginning )
Author: Tanada Kanade
Genre: Thiller, Gore, Suspense
Lenght: 2 chapter ( Two shots )
Cast: Infinite L ( Kim myung soo) , Lee joon MBLAQ , and the other cast
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
01:00 a.m
aku masih duduk diam memandangi istriku
yang terbaring lemah tak sadarkan diri. 3 tahun lamanya aku menunggu dia
menepati janjinya. Katanya ia akan kembali padaku ketika lukaku sudah sembuh..
Sekarang semua bekas sayatan ditubuhku sudah hilang,aku tidak kesakitan lagi
seperti terakhir kali aku melihatnya terbaring bersimbah darah. Keparat itu
menusukya persis didepan mataku...
02:00 a.m
*kringg kringg*
Teleponku berbunyi..
"halo?"
"gawat,kita diserang!"
"cih,aku baru membunuh 3 anak buahnya
dia sudah mau berhutang lagi. Bagaimana pertahanan kita?
"Masih aman,tapi kurasa sedikit lagi
tertembus! karena diluar ada sekitar 30 orang yang terus berusaha mendobrak."
"Baiklah, aktifkan mode pertahanan
gedung dan suruh orang-orang menjauh dari pintu depan."
"Baik!"
Aku menutup telepon dan mulai memilah-milah
senapan.
"MSG-90 tidak.. PSG1 juga tidak..
ah.." *MSG-90 dan PSG1 adalah nama senapan*
Aku mengambil sebuah bom tangan yang
tergeletak dimeja. Kuaktifkan dan kulempar asal dari kamarku dilantai 3.
*BLARR*
Bom tangan itu tak mengenai siapapun. Namun
semua pasukan lawan tak berani maju lagi. Kurasa mereka sangat terkejut dengan
bomku tadi, air muka mereka terlihat ketakutan. Lalu, sebuah helikopter kecil
turun mendekati beranda rumahku. Seseorang berbicara menggunakan pengeras suara.
“Myungsoo-ya! Kenapa kau tidak turun dan
bermain bersamaku?”
“Diamlah,aku tidak sedang ingin membunuh
seseorang.”
“Hei,dengar. Aku juga tak berniat membunuh
kok. Kubilang kan main? Hahaha”
“Bisakah kau diam sebelum aku menjatuhkan
bomku yang kedua?”
“Woo..Tenang dulu.Kenapa kau begitu serius?
Dulu kau tidak begitu, setidaknya sebelum jantung istrimu kutusuk sampai tembus.
Hahaha.”
Tanpa basa-basi kuledakkan bom tangan lagi.
Kali ini mengenai sekitar 5 orang yang berjaga disudut lapangan.
“Aku masih belum membalaskan dendam, tapi
kau sudah mau menambah dosa huh?”
“Hei seharusnya aku yang bilang begitu!
Kenapa kau mendahuluiku?!”
“Sudahlah Myungsoo, aku memang selalu
mendahuluimu. Akui saja! Masalah Hwayoung itu hanya kelengahanku.”
“Lengah? Kau memang harusnya kubunuh
kemarin. Mulutmu tak bisa dijaga.”
“Aku tak menyalahkanmu tidak membunuhku
waktu itu.Mari sekarang kita buktikan siapa yang pantas hidup. Kau atau aku.”
“Sudah kubilang aku sedang tidak ingin…”
“Pengecut! Bilang saja kau takut menyusul
istrimu.”
“Kita bertemu di gedung latihan tembak
kemiliteran lusa tengah malam.”
“Oh mau main permainan lama ya..Aku yang
mencarimu atau..”
“Aku yang mencarimu.”
“Great. Kupakai seluruh gedungnya ya? kutunggu
di lantai 20.”
“Baiklah. Pergi sekarang.”
“Yah baiklah aku akan pergi ( mengangkat
alis ) semuanya! Mari kita kembali dan berlatih!”
Aku kembali masuk kedalam kamar. Terdengar
suara pasukan Joon menjawab dengan semangat ajakannya untuk berlatih. Kalau aku
jadi pasukannya, aku takkan mau berlatih lagi karena kujamin butuh waktu
setidaknya 2 bulan baginya untuk mempersiapkan penyerangan dirumahku ini. Lama?
Tidak. Joon memang orang yang mempersiapkan segalanya dengan matang.
Lusa sudah pertempuran, tidak mungkin untuk
membuat siasat baru. Dari 3489 siasat yang pernah dibuat, kira-kira yang mana
yang akan digunakannya besok? Aku berpikir sambil membuat secangkir kopi.
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarku. Ternyata salah satu dari 5 ketua
pasukanku.
“Ada apa?” Tanyaku.
“Lusa sudah pertempuran, pihak lawan tidak
akan membuat siasat baru. Pasti menggunakan salah satu dari ribuan siasat yang
pernah digunakannya.”
“3489 lebih tepatnya. Aku sudah tahu hal
itu.” Kataku sambil menyesap kopi buatanku. Setelah 3 tahun belajar membuat
kopi sendiri,akhirnya hasil kali ini lumayan..lumayan buruk. Aku meletakkan
cangkirku diatas meja,lalu menghela napas.
“Perlu kubuatkan kopi lagi,Pak?” Tanyanya
seakan tahu kopi buatanku tak enak. Kurasa memang dia tahu.
“Tidak perlu.” Jawabku singkat.
“Jadi, siasat yang bagaimana yang akan kita
gunakan lusa,Pak?”
“Memangnya kenapa?”
“Kita kan harus berlatih dengan baik agar
bisa menang. Bukankah begitu?”
“Yah untuk menang memang butuh berlatih.
Tapi kali ini kalian santai saja.”
“Memang anda sudah tahu siasat yang akan
dipakainya?”
“Tidak,belum terpikir.”
“Lalu mengapa kami harus santai?”
“Karena kalian tak perlu bertempur.”
“Hah? Apa maksud anda?”
“Aku sendiri yang akan menghadapinya.”
“Tapi 19 lantai bukanlah hal yang mudah.”
“Memang. Tapi lebih tidak mudah lagi kalau
harus mengorbankan setidaknya 280 kepala keluarga hanya untuk masalah pribadiku!”
“Tapi kami memang sudah mengabdi untuk
anda,Pak! Kami memang sudah mengambil resiko untuk mengorbankan nyawa untuk
anda, karena anda pun melakukan hal yang sama kepada kami!”
“Sudah cukup 158 kepala keluarga mati pada
pertempuran lalu. Kalian sudah cukup membalas budiku dengan tetap hidup sampai
sekarang. Kita semua sudah impas. Kini giliranku mempertaruhkan nyawa dan harga
diriku.”
“Kami akan tetap ikut bertempur,Pak. Kami
juga akan mempertaruhkan nyawa dan harga diri kami pada pertempuran lusa. Anda
yang mengatakannya kepada kami dulu, hidup atau mati kita yang menentukan dan
kita yang perjuangkan.”
“Ya..aku memang mengatakannya. *menghela
napas*Baiklah, kumpulkan seperlima rekan kita di lapangan.”
“Baik,Pak!”
Aku menghela napas panjang tepat setelah
terdengar bunyi blam tanda pintu sudah tertutup kembali. Firasatku buruk
tentang ini. Aku tidak tahu berapa banyak kepala keluarga lagi yang akan
kukuburkan dipemakaman lusa ini.
Sekitar 15 menit kemudian aku turun untuk
memberikan “mandat” pada seperlima rekanku di lapangan.
“Seperti yang kalian semua sudah ketahui,
lusa kita akan menghadapi perang terbesar yang kedua tahun ini. Aku tidak mau
melibatkan banyak orang, tapi…”
Terdengar suara kembang api diluncurkan.
“Lari!”
Hanya itu yang sempat aku ucapkan sebelum
sebuah bom dijatuhkan tepat ditengah-tengah kerumunan rekanku yang berbaris
rapi. Hanya sebagian yang sadar dan langsung meyelamatkan diri. Sementara
mulutku masih menganga lebar melihat banyaknya orang mati terkulai dihadapanku,
aku dievakuasi kedalam kamarku.
Sial. Bisa-bisanya keparat itu berbuat
curang, batinku. Aku masih ngeri membayangkan betapa porak porandanya lapangan
itu.
Satu
jam berlalu. Salah seorang rekan tim medis mengetuk pintu kamarku,dan aku
mempersilahkannya masuk.
“Pak, saya akan melaporkan situasi saat
ini.”
“Laporkan saja.”
“Sampai saat ini, dari sekitar 400 orang
keseluruhan, 200 orang selamat, 60 luka parah, 70 luka ringan, 25 sedang berada
di unit gawat darurat, dan 45 orang mati ditempat.”
“Laporkan kembali dua jam lagi perkembangan
25 orang di unit gawat darurat, dan proses pemakaman 45 orang yang mati
ditempat. Jangan lupa menghubungi keluarga 70 orang terakhir.”
“Siap,Pak.”
“Baiklah kau boleh keluar.”
Blam. Pintu tertutup kembali. Aku mulai
memutar otak, mulai dari memikirkan nasib 70 orang rekanku, sampai menyiasati
pembalasan dendamku.
Setelah mondar-mandir beberapa kali,
akhirnya aku mendapat sebuah ide. Ide gila terbaik yang pernah terpikirkan
olehku.mungkin. Aku memanggil seluruh orang kepercayaanku dengan telepon khusus.
“Kita hanya tinggal menunggu..Kehancuran
dari sang penghancur.” Kataku menutup pertemuan kami. Orang-orang kepercayaanku
hanya tersenyum penuh arti.
To be continued…

No comments:
Post a Comment