Author:
Agamemnon, Racco, Tanada Kanade
Genre: Horror, Fantasy, Family, Mystery
Cast:
Kim Woobin, Son Naeun, Kim Hyuna, and the other.
Length:
Short story
Prev>> “ Ini baru permulaan… Kim Woobin. Lemah
sekali kau.Tapi baguslah. Dengan begini,aku hanya tinggal menunggu waktu untuk
menjemput kemenanganku.kekeke..."
Sesampainya
di rumah sakit, Hyuna langsung menelpon Naeun melalui handphone Woobin yang
dititipkan padanya. Naeun segera datang bersama ibu Woobin. 1 jam kemudian
dokter keluar dari ruangan UGD
"Bagaimana
keadaannya dok?"
"Kesadarannya sudah pulih namun kami masih belum bisa memastikan penyebabnya. Tuan kim
sedang menjalani CT scan dan beberapa pemeriksaan lain. mungkin hasilnya akan
keluar sekitar 1 jam lagi. Mohon menunggu."
Beberapa
menit kemudian 4 orang pemegang saham yang ikut ke rumah sakit pamit untuk
melanjutkan kembali pekerjaan mereka di kantor masing-masing.
Woobin
dipindahkan ke ruang rawat inap. Naeun,ibu Woobin dan Hyuna masuk bersama
Dokter yang tadi ke ruang rawat Woobin.
"Bagaimana
keadaanmu tuan Kim?"
"Sudah
jauh lebih baik. Sekarang sakitnya sudah tidak terasa"
"Syukurlah.
Ini hasil CT scan anda, Ternyata.."
"Apa
ada yang bermasalah dengan jantungku dok?"
"Kami
masih ragu untuk memastikan Karena ada singgungan-singgungan di setiap hipotesa
kami. Jadi, saya perlu mengintrogasi anda terlebih dahulu."
“Baiklah
silahkan,dok.”
“Apakah
anda perokok?”
“Tidak,dok.”
“Dalam
sehari,berapa jam anda bekerja?”
“Mungkin
sekitar 11 jam.”
“Apa
yang sedang anda lakukan ketika terjadi nyeri pada dada anda?”
"Saya
sedang memimpin rapat bulanan perusahaan."
“Apakah
dalam keluarga anda ada yang punya riwayat penyakit jantung?”
“Saya
rasa tidak ada,dok. Hanya saja kakek saya tekanan darahnya agak tinggi.”
"Bagaimana
pola makan anda?"
"Saya
makan cukup teratur. Sarapan pukul 7,Makan siang setelat-telatnya pukul 1 siang
dan makan malam pukul 7.30 malam dan semua dilakukan di rumah."
"Baiklah
terimakasih atas informasinya. Berdasarkan hipotesa pertama kami,anda mengalami
angina,dimana terjadi penyempitan pembuluh darah karena kekurangan oksigen
dimana factor penyebabnya adalah aktivitas yang memicu jantung untuk memompa
lebih cepat. Misalnya rasa takut yang luar biasa, tekanan emosional, kerjaa
fisik terlalu berat,dan sebagainya. Dalam hal ini anda memenuhi criteria karena
anda bekerja lebih dari 8 jam per hari. Namun ternyata,pola makan anda teratur
sehingga tenaga tidak akan terforsir terlalu keras dan anda juga tidak bekerja
di perairan,bahkan diruangan anda ACnya tidak langsung mengenai anda."
"Lalu
kami juga sempat memiliki hipotesa yang kuat bahwa anda kena serangan jantung.
Namun dengan mengamati pola makan dan gaya hidup anda,hipotesa kami luluh.
Lagipula pembuluh darah yang mengalirkan darah ke jantung anda justru bekerja
dengan sangat baik dibanding pasien lain!"
"Lalu
penyakit apa yang saya alami dok?"
"Kami
masih belum menemukan dan memastikannya. Maaf kami minta waktu untuk
meyelidikinya karena ini kasus pertama yang terjadi. Saya hanya pesan tetap
jaga pola makan anda dan perbanyak air mineral."
"Tidak
apa-apa baiklah. Ngomong-ngomong kapan aku boleh pulang? aku sudah merasa
sehat. Lagipula,banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan di kantor."
"Siang
ini anda sudah diperbolehkan pulang. Nanti akan kami kabari lagi bila ada
perkembangan."
"Baguslah
Gamsahamnida dokter."
"Ah ne itu sudah kewajibanku.Baiklah saya permisi
dulu"
"Baik dokter."
"Aneh. Kenapa bisa penyakitmu tidak bisa diidentifikasi
ya?" tanya Naeun heran.
"Aku juga bingung. Padahal dari dulu kita kan selalu
menjaga kesehatan. Ibu,apa dulu ayah pernah mengalami seperti ini? mungkin aku
keturunan kan."
Ibu Woobin berpikir sejenak dan..
Deg!
Sekelebat pikiran muncul di otak ibu Woobin.
"Apa mungkin itu..muncul lagi...? tapi bukankah. ..dia sudah membunuhnya..?Tidak mungkin.."
"Ibu? Ibu!" panggilan Woobin menyadarkan lamunan
ibunya.
"Ah iya? ayahmu sama sepertimu. Kakek nenekmu sampai
moyangmu juga selalu peduli dengan kesehatan. Cuma kakekmu saja yang punya
penyakit. Itu karena ia jarang minum air mineral. Yang lainnya meninggal
dengan..tenang." (tersiksa..)batinnya.
"Ah ibu mau tanya sesuatu.. Rasa sakit seperti apa yang
kau rasakan tadi?"
"Pertama aku merasa dadaku panas,lalu seperti dihujam
berkali-kali. Rasanya seperti ada yang menusuk-nusuk jantungku."
Ibu Woobin tertegun kembali.
"Oh begitu. Nak,ibu ada urusan.Ibu pulang dulu ya. Jaga
kesehatanmu."
"Apa yang sebenarnya ibuku pikirkan? Aku yakin bukan
karena sebab apa-apa aku bisa begini." Rautnya mukanya langsung berubah
takut dan cemas.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Apa mungkin ada sesuatu
yang dia sembunyikan dariku?" Sekelebat pertanyaan muncul dalam pikiran
Woobin yang membuatnya bingung akan apa yang terjadi pada dirinya dan yang
dipikirkan ibunya.
"Jangan sampai apa yang aku khawatirkan terjadi. Ah,
tapi tak mungkin. Dia sudah mati bersama suami dan kakakku..iya kan..Mana
mungkin dia bangkit kembali. Tapi melihat anakku yang sakit tanpa sebab yang
jelas, kemungkinan besar hanya dia. Kalau benar dia masih hidup, berarti
seluruh keluargaku benar-benar terancam."
Beberapa hari kemudian, Kim Woobin sudah diperbolehkan
pulang ke rumahnya. Dia masih harus diistirahatkan beberapa hari ke depan
karena kondisinya belum benar-benar pulih. Beruntungnya, 2 hari setelah Kim
Woobin masuk rumah sakit ternyata Presiden Direktur sudah kembali dari
perjalanan bisnisnya dan bisa menangani semuanya dengan mudah. Bahkan, kabar
mengenai diskusi mengenai produk bantal lipat tersebut berjalan dengan lancar
dan membawa hasil yang memuaskan. Tentu saja hal ini merupakan angin segar bagi
seluruh karyawan di perusahaan tersebut termasuk Kim Woobin.
"Terimakasih kau telah meyakinkan para pemegang saham
dengan baik Woobin-ah. Ngomong-ngomong bagaimana keadaanmu?" tanya
direktur Lee.
"Aku baik-baik saja direktur.Hahaha"
"Apa kata dokter tentang sakitmu kemarin? Aku sampai
tak tenang dalam pesawat."
"Dokter belum dapat memastikan.Katanya setiap kali
punya hipotesa pasti ada yang tidak beres. Yah aku masih menunggu kabar
selanjutnya."
"Hm jaga kesehatanmu Woobin-ah. Mungkin kau mulai menua
makanya banyak penyakit aneh-aneh."
"Mungkin kau benar direktur. Tak terasa umurku sudah 27
tahun. Bagaimana denganmu?"
"A..Aku? kebalikan darimu.."
"tu..tujuh puluh..dua.. kau terlihat masih sangat muda
direktur.." kata Woobin dengan hati-hati.
Direktur Lee menghela napas dan menyesap kopi hangatnya.
"Sudah,jangan menghiburku Aku memang sudah
kakek-kakek."
"Jangan bilang begitu direktur. Ahahaha" tawa
Woobin terdengar memaksa.
tiba-tiba handphone Woobin berdering. 'ibu'
"Ya kenapa
bu?"
"Bagaimana
keadaanmu nak? apa rasa sakit itu muncul lagi?"
"Tidak,bu.
Sejauh ini aku baik-baik saja."
"ah
baguslah..mungkin kemarin kau kecapekan. Jangan terlalu memaksakan diri untuk
bekerja woobin-ah.Lalu kalau ada apa-apa ,ceritakan pada ibu,nak."
"Iya,bu
tenang saja. Ibu yang akan tahu paling pertama.hahaha ibu aku sedang bersama
bosku,sudah dulu ya nanti aku telepon lagi."
"Baiklah.."
kata ibu Woobin seraya menutup telepon.
semalaman ibu
Woobin tidak bisa tidur memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya pada anak
tunggal kebanggaannya itu jika benar penyebab sakitnya waktu itu adalah hal
yang diduganya sejak awal.
"Tidak
bisa. Aku tidak bisa hanya diam sementara nasib seluruh generasi keluargaku
terancam. Tapi bagaimana caranya? arabeoji.. kumohon bantu aku selamatkan
kita.." Ibu Woobin menatap langit yang dihiasi beribu bintang dilengkapi
bulan sabit yang menggantung cantik ditengah gelapnya malam.bulir air mata
menetes dari mata kanan ibu Woobin.
Ibu woobin
memejamkan mata sambil mengerenyitkan dahi. Berusaha menyingkirkan segala
pikiran buruk dan mulai berpikir jernih untuk bisa menyelamatkan keluarganya.
Ada keraguan dalam hatinya. Ragu akan keberhasilannya menyelamatkan keluarnya
tanpa perlu diketahui anaknya,Woobin.
"Kalau
benar perkiraan leluhur,Aku hanya perlu mempertahankannya.. 2 generasi
terakhir.. ah,buku itu! kenapa aku bisa sampai lupa!"
ibu woobin
bergegas ke kamarnya. Sibuk mencari.sesuatu diantara tumpukan buku-buku dalam
salah satu lemarinya. Tidak ada. Lalu ia melaju lagi ke gudang penyimpanan dan
mulai mencari lagi diantara kardus-kardus berisi barang lama. Pencariannya
terhenti di sebuah kotak polkadot yang tutupnya sudah berdebu. Pasti
disini..gumamnya. Ia mulai membuka dan menciba melihat isi kotak tersebut.
Foto,album foto,foto,dan foto lagi.
"Oh dimana
aku menyimpanya..." keluh ibu woobin frustasi.
Tiba-tiba ia
teringat suatu tempat dimana tak seorangpun bisa menjangkaunya. Ya. Ia
meletakkan buku itu di bagian atas lemari pakaiannya. Tempat dimana koper-koper
diletakkan. Ia menaruhnya disalah satu koper kesayangannya. Benar dugaannya.
Buku dengan kesan kuno bercorak lengkungan-lengkungan abstrak berwarna coklat
tua,yang bahkan kertasnya sudah menguning termakan zaman. Buku yang diwariskan
turun-temurun di keluarganya. Yang tak pernah diniatkannya untuk diteruskan
kepada anak semata wayangnya. Buku yang ingin ia lupakan seumur hidupnya. Buku
yang dipenuhi kesedihan dan kepahitan,juga rintihan semua tetuanya. Buku yang
sempat tak ia percayai pernah ada di dunia ini.
"Aku tak
pernah membacanya sendiri..." ibu Woobin mulai membuka lembaran pertama
buku itu. Tulisannya masih menggunakan aksara cina kuno yang tak bisa
dimengerti oleh ibu Woobin. Ia mengehela napas panjang.
"Padahal
aku yakin kakek moyang tahu sesuatu tentang kutukan ini..."
Kemudian ia
membalik halaman buku itu dan menemukan sebuah gambar yang sepertinya merupakan
sosok penting dibalik kutukan ini. Seorang wanita dengan rambut yang ditata
rapih dengan beberapa perhiasan mewah di atas kepalanya. Wajahnya oval dengan
mata sipit dan hidung yang mancung. Memakai pakaian tradisional yang
anggun.Cantik sekali. Siapakah wanita ini? Apa hubungannya wanita itu dengan
kutukan yang menimpa keluarganya? Mungkin salah satu mendiang leluhurnya pernah
menuliskannya. Ia mencoba membuka lembar-lembar berikutnya. 1446. ah itu dia.
Saat pertama kali tulisan hangeul diterapkan. Kakek generasi ke-7 melanjutkan
kisahnya dengan menggunakan hangeul.
' Wanita itu
menampakkan dirinya padaku. Dengan jubah hitam yang sama seperti yang
digambarkan kakekku generasi ke-5. Dengan kekuatan yang diberikan kakek moyang
kepada 3 generasi, aku berusaha menghempaskan wanita itu namun tak bisa. Wanita
itu terlalu kuat. Aura jahat disekitarnya melindunginya begitu kuat.
Pertahanannya. tak bisa ditembus.. '
" Jadi wanita itu...?!"
To be continued

No comments:
Post a Comment