Attention~

Happy Reading^^

1. Please leave a comment, at least a reaction below the post.
Usahakan jangan jadi silent reader. Abis baca diharapkan comment~ gak susah kok, bisa anonymous:) paling nggak kasih reaksi kalian dikotak yang ada dibawah post. Tinggal centang aja:)
Kritik dan saran diterima,dengan bahasa yang baik pastinya:3
2. Copy allowed with credit:3
3. Kalo mau req ff bisa kok, contact di line uname 'snowflakes2ch' sebisa mungkin saya bikinin:)
Hobi berfantasi juga? Ayo tuang dalam kata-kata^^ Bisa kirim ke saya dan akan dipost disini~ full credit♡

Saya minta comment bukan karna haus akan comment. Blog ini hanya saluran hobby. Tapi alangkah lebih senang bila hasil kerja diindahkan dan diberi saran supaya lebih baik:3
Gamsahamnida^^

Thursday, April 10, 2014

Black Desire (Chapter 2) IDENTITY


Title: Black Desire Chapter 2 IDENTITY
Author: Agamemnon, Racco, Tanada Kanade
Genre: Horror, Fantasy, Family, Mystery
Cast: Kim Woobin, Son Naeun, Kim Hyuna, and the other.
Length:  Short story

Prev>>  “ Ini baru permulaan… Kim Woobin. Lemah sekali kau.Tapi baguslah. Dengan begini,aku hanya tinggal menunggu waktu untuk menjemput kemenanganku.kekeke..."

Sesampainya di rumah sakit, Hyuna langsung menelpon Naeun melalui handphone Woobin yang dititipkan padanya. Naeun segera datang bersama ibu Woobin. 1 jam kemudian dokter keluar dari ruangan UGD
"Bagaimana keadaannya dok?"
"Kesadarannya sudah pulih namun kami masih belum bisa memastikan penyebabnya. Tuan kim sedang menjalani CT scan dan beberapa pemeriksaan lain. mungkin hasilnya akan keluar sekitar 1 jam lagi. Mohon menunggu."
Beberapa menit kemudian 4 orang pemegang saham yang ikut ke rumah sakit pamit untuk melanjutkan kembali pekerjaan mereka di kantor masing-masing.
Woobin dipindahkan ke ruang rawat inap. Naeun,ibu Woobin dan Hyuna masuk bersama Dokter yang tadi ke ruang rawat Woobin.
"Bagaimana keadaanmu tuan Kim?"
"Sudah jauh lebih baik. Sekarang sakitnya sudah tidak terasa"
"Syukurlah. Ini hasil CT scan anda, Ternyata.."
"Apa ada yang bermasalah dengan jantungku dok?"
"Kami masih ragu untuk memastikan Karena ada singgungan-singgungan di setiap hipotesa kami. Jadi, saya perlu mengintrogasi anda terlebih dahulu."
“Baiklah silahkan,dok.”
“Apakah anda perokok?”
“Tidak,dok.”
“Dalam sehari,berapa jam anda bekerja?”
“Mungkin sekitar 11 jam.”
“Apa yang sedang anda lakukan ketika terjadi nyeri pada dada anda?”
"Saya sedang memimpin rapat bulanan perusahaan."
“Apakah dalam keluarga anda ada yang punya riwayat penyakit jantung?”
“Saya rasa tidak ada,dok. Hanya saja kakek saya tekanan darahnya agak tinggi.”
"Bagaimana pola makan anda?"
"Saya makan cukup teratur. Sarapan pukul 7,Makan siang setelat-telatnya pukul 1 siang dan makan malam pukul 7.30 malam dan semua dilakukan di rumah."
"Baiklah terimakasih atas informasinya. Berdasarkan hipotesa pertama kami,anda mengalami angina,dimana terjadi penyempitan pembuluh darah karena kekurangan oksigen dimana factor penyebabnya adalah aktivitas yang memicu jantung untuk memompa lebih cepat. Misalnya rasa takut yang luar biasa, tekanan emosional, kerjaa fisik terlalu berat,dan sebagainya. Dalam hal ini anda memenuhi criteria karena anda bekerja lebih dari 8 jam per hari. Namun ternyata,pola makan anda teratur sehingga tenaga tidak akan terforsir terlalu keras dan anda juga tidak bekerja di perairan,bahkan diruangan anda ACnya tidak langsung mengenai anda."
"Lalu kami juga sempat memiliki hipotesa yang kuat bahwa anda kena serangan jantung. Namun dengan mengamati pola makan dan gaya hidup anda,hipotesa kami luluh. Lagipula pembuluh darah yang mengalirkan darah ke jantung anda justru bekerja dengan sangat baik dibanding pasien lain!"
"Lalu penyakit apa yang saya alami dok?"
"Kami masih belum menemukan dan memastikannya. Maaf kami minta waktu untuk meyelidikinya karena ini kasus pertama yang terjadi. Saya hanya pesan tetap jaga pola makan anda dan perbanyak air mineral."
"Tidak apa-apa baiklah. Ngomong-ngomong kapan aku boleh pulang? aku sudah merasa sehat. Lagipula,banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan di kantor."
"Siang ini anda sudah diperbolehkan pulang. Nanti akan kami kabari lagi bila ada perkembangan."
"Baguslah Gamsahamnida dokter."
"Ah ne itu sudah kewajibanku.Baiklah saya permisi dulu"
"Baik dokter."
"Aneh. Kenapa bisa penyakitmu tidak bisa diidentifikasi ya?" tanya Naeun heran.
"Aku juga bingung. Padahal dari dulu kita kan selalu menjaga kesehatan. Ibu,apa dulu ayah pernah mengalami seperti ini? mungkin aku keturunan kan."
Ibu Woobin berpikir sejenak dan..
Deg!
Sekelebat pikiran muncul di otak ibu Woobin.
"Apa mungkin itu..muncul lagi...? tapi bukankah. ..dia sudah membunuhnya..?Tidak mungkin.."
"Ibu? Ibu!" panggilan Woobin menyadarkan lamunan ibunya.
"Ah iya? ayahmu sama sepertimu. Kakek nenekmu sampai moyangmu juga selalu peduli dengan kesehatan. Cuma kakekmu saja yang punya penyakit. Itu karena ia jarang minum air mineral. Yang lainnya meninggal dengan..tenang." (tersiksa..)batinnya.
"Ah ibu mau tanya sesuatu.. Rasa sakit seperti apa yang kau rasakan tadi?"
"Pertama aku merasa dadaku panas,lalu seperti dihujam berkali-kali. Rasanya seperti ada yang menusuk-nusuk jantungku."
Ibu Woobin tertegun kembali.
"Oh begitu. Nak,ibu ada urusan.Ibu pulang dulu ya. Jaga kesehatanmu."
"Apa yang sebenarnya ibuku pikirkan? Aku yakin bukan karena sebab apa-apa aku bisa begini." Rautnya mukanya langsung berubah takut dan cemas.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Apa mungkin ada sesuatu yang dia sembunyikan dariku?" Sekelebat pertanyaan muncul dalam pikiran Woobin yang membuatnya bingung akan apa yang terjadi pada dirinya dan yang dipikirkan ibunya.
"Jangan sampai apa yang aku khawatirkan terjadi. Ah, tapi tak mungkin. Dia sudah mati bersama suami dan kakakku..iya kan..Mana mungkin dia bangkit kembali. Tapi melihat anakku yang sakit tanpa sebab yang jelas, kemungkinan besar hanya dia. Kalau benar dia masih hidup, berarti seluruh keluargaku benar-benar terancam."
Beberapa hari kemudian, Kim Woobin sudah diperbolehkan pulang ke rumahnya. Dia masih harus diistirahatkan beberapa hari ke depan karena kondisinya belum benar-benar pulih. Beruntungnya, 2 hari setelah Kim Woobin masuk rumah sakit ternyata Presiden Direktur sudah kembali dari perjalanan bisnisnya dan bisa menangani semuanya dengan mudah. Bahkan, kabar mengenai diskusi mengenai produk bantal lipat tersebut berjalan dengan lancar dan membawa hasil yang memuaskan. Tentu saja hal ini merupakan angin segar bagi seluruh karyawan di perusahaan tersebut termasuk Kim Woobin.
"Terimakasih kau telah meyakinkan para pemegang saham dengan baik Woobin-ah. Ngomong-ngomong bagaimana keadaanmu?" tanya direktur Lee.
"Aku baik-baik saja direktur.Hahaha"
"Apa kata dokter tentang sakitmu kemarin? Aku sampai tak tenang dalam pesawat."
"Dokter belum dapat memastikan.Katanya setiap kali punya hipotesa pasti ada yang tidak beres. Yah aku masih menunggu kabar selanjutnya."
"Hm jaga kesehatanmu Woobin-ah. Mungkin kau mulai menua makanya banyak penyakit aneh-aneh."
"Mungkin kau benar direktur. Tak terasa umurku sudah 27 tahun. Bagaimana denganmu?"
"A..Aku? kebalikan darimu.."
"tu..tujuh puluh..dua.. kau terlihat masih sangat muda direktur.." kata Woobin dengan hati-hati.
Direktur Lee menghela napas dan menyesap kopi hangatnya.
"Sudah,jangan menghiburku Aku memang sudah kakek-kakek."
"Jangan bilang begitu direktur. Ahahaha" tawa Woobin terdengar memaksa.
tiba-tiba handphone Woobin berdering. 'ibu'
"Ya kenapa bu?"
"Bagaimana keadaanmu nak? apa rasa sakit itu muncul lagi?"
"Tidak,bu. Sejauh ini aku baik-baik saja."
"ah baguslah..mungkin kemarin kau kecapekan. Jangan terlalu memaksakan diri untuk bekerja woobin-ah.Lalu kalau ada apa-apa ,ceritakan pada ibu,nak."
"Iya,bu tenang saja. Ibu yang akan tahu paling pertama.hahaha ibu aku sedang bersama bosku,sudah dulu ya nanti aku telepon lagi."
"Baiklah.." kata ibu Woobin seraya menutup telepon.
semalaman ibu Woobin tidak bisa tidur memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya pada anak tunggal kebanggaannya itu jika benar penyebab sakitnya waktu itu adalah hal yang diduganya sejak awal.
"Tidak bisa. Aku tidak bisa hanya diam sementara nasib seluruh generasi keluargaku terancam. Tapi bagaimana caranya? arabeoji.. kumohon bantu aku selamatkan kita.." Ibu Woobin menatap langit yang dihiasi beribu bintang dilengkapi bulan sabit yang menggantung cantik ditengah gelapnya malam.bulir air mata menetes dari mata kanan ibu Woobin.
Ibu woobin memejamkan mata sambil mengerenyitkan dahi. Berusaha menyingkirkan segala pikiran buruk dan mulai berpikir jernih untuk bisa menyelamatkan keluarganya. Ada keraguan dalam hatinya. Ragu akan keberhasilannya menyelamatkan keluarnya tanpa perlu diketahui anaknya,Woobin.
"Kalau benar perkiraan leluhur,Aku hanya perlu mempertahankannya.. 2 generasi terakhir.. ah,buku itu! kenapa aku bisa sampai lupa!"
ibu woobin bergegas ke kamarnya. Sibuk mencari.sesuatu diantara tumpukan buku-buku dalam salah satu lemarinya. Tidak ada. Lalu ia melaju lagi ke gudang penyimpanan dan mulai mencari lagi diantara kardus-kardus berisi barang lama. Pencariannya terhenti di sebuah kotak polkadot yang tutupnya sudah berdebu. Pasti disini..gumamnya. Ia mulai membuka dan menciba melihat isi kotak tersebut. Foto,album foto,foto,dan foto lagi.
"Oh dimana aku menyimpanya..." keluh ibu woobin frustasi.
Tiba-tiba ia teringat suatu tempat dimana tak seorangpun bisa menjangkaunya. Ya. Ia meletakkan buku itu di bagian atas lemari pakaiannya. Tempat dimana koper-koper diletakkan. Ia menaruhnya disalah satu koper kesayangannya. Benar dugaannya. Buku dengan kesan kuno bercorak lengkungan-lengkungan abstrak berwarna coklat tua,yang bahkan kertasnya sudah menguning termakan zaman. Buku yang diwariskan turun-temurun di keluarganya. Yang tak pernah diniatkannya untuk diteruskan kepada anak semata wayangnya. Buku yang ingin ia lupakan seumur hidupnya. Buku yang dipenuhi kesedihan dan kepahitan,juga rintihan semua tetuanya. Buku yang sempat tak ia percayai pernah ada di dunia ini.
"Aku tak pernah membacanya sendiri..." ibu Woobin mulai membuka lembaran pertama buku itu. Tulisannya masih menggunakan aksara cina kuno yang tak bisa dimengerti oleh ibu Woobin. Ia mengehela napas panjang.
"Padahal aku yakin kakek moyang tahu sesuatu tentang kutukan ini..."
Kemudian ia membalik halaman buku itu dan menemukan sebuah gambar yang sepertinya merupakan sosok penting dibalik kutukan ini. Seorang wanita dengan rambut yang ditata rapih dengan beberapa perhiasan mewah di atas kepalanya. Wajahnya oval dengan mata sipit dan hidung yang mancung. Memakai pakaian tradisional yang anggun.Cantik sekali. Siapakah wanita ini? Apa hubungannya wanita itu dengan kutukan yang menimpa keluarganya? Mungkin salah satu mendiang leluhurnya pernah menuliskannya. Ia mencoba membuka lembar-lembar berikutnya. 1446. ah itu dia. Saat pertama kali tulisan hangeul diterapkan. Kakek generasi ke-7 melanjutkan kisahnya dengan menggunakan hangeul.
' Wanita itu menampakkan dirinya padaku. Dengan jubah hitam yang sama seperti yang digambarkan kakekku generasi ke-5. Dengan kekuatan yang diberikan kakek moyang kepada 3 generasi, aku berusaha menghempaskan wanita itu namun tak bisa. Wanita itu terlalu kuat. Aura jahat disekitarnya melindunginya begitu kuat. Pertahanannya. tak bisa ditembus.. '
" Jadi wanita itu...?!"



To be continued

No comments:

Post a Comment